Showing posts with label BERITA SANTRI. Show all posts
Showing posts with label BERITA SANTRI. Show all posts

NASI HULLUL, ISTILAH PARA PENIKMAT TAKJIL (PPT) SANTRI DI PESANTREN SUKOREJO


Hullul di Pesantren, Ngabuburitnya Santri. Pesantren yang merupakan sebagai basis intelektual Agama, anak didiknya (santri) hampir dari semua daerah di Indonesia,  pada bulan Rhomadon pengajian kitab kilat selalu menghiasi keberkahan bulan puasa dan dinikmati oleh sebagian satri yang tidak pulang kerumahnya disaat libur panjang peantren hal ini merupakan metode ngabuburit santri dalam keseharian, sebagian yang lain mengunakan waktu sorenya dengan ber-olahraga dengan sarung.

Ada keunikan tersendiri di setiap pesantren pada bulan puasanya, di Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo, pada bulan puasa santri yang tidak pulang disuguhkan dengan nasi hullul menjelang buka puasa. nasi hullul merupakan istilah dipesantren yang merupakan nasi jagung dengan sayur saja di hidangkan untuk santri yang ngabuburit tersebut.

Setiap sore ba'da pengajian kitab kuning di Mushollah Ibrahimi Sukorejo tersebut, sontak akan terdengar teriakan suara Hulul.. hullul hullluuuul....hullulll....  (ungkap petugas pesantren tersebut), dan pada saat itulah dengan seketika para santri berlari dengan membawa Mangkok, Wajan hingga Ember cucian untuk di gunakan sebagai wadah nasi hullul tersebut.

Bagi santri adanya nasi hullul ini merupakan keberkahan tersediri, disamping sebagai persiapan buka puasa juga di gunakan untuk persiapan sahur nanti, menurutnya nasi hullul merupakan bagian dari aroma dan titisan barokah para gurunya. dengan adanya nasi hullul ini, kebahagian santri untuk menikmati buka puasa merupakan kebahagian tersendiri yang jauh dari sanak famili atau keluaga di rumah sana.


Asal mula adanya nasi hullul di pesantren Sukorejo ini sudah sejak lama, konon diceritakan bahwa kebiasaan ini sudah mentradisi bagi kalangan pesantren, dan merupakan hal yang harus dilakukan demi menjaga nilai-nilai leluhur para sesepuh pesantren dan juga bagian dari untuk memudahkan para santri untuk menyiap buka puasa.

ULAMA' INI, TIDAK MENGHARAMKAN HARI VALENTIN


Hari Valentin's Day yang setiap tahunnya jatuh pada tanggal 14 Februari seringkali terdapat kontroversi masyarakat terhadap boleh atau tidaknya merayakan hari Valentin yang dikenal sebagai kasih sayang. dan baru-baru ini MUI (Majlis Ulama' Indonesia) memfatwakan merayakan Hari Valentin itu haram dan ada juga gerakan Massa yang menolak terhadap perayaan hari valentin yang di anggap sebagai Hari Raya Nasrani.

Secara Historisn asal usul hari Valentin sebenarnya banyak Versi, salah satunya bermula peristiwa sejarah pada masa bangsa Romawi di saat merayakan atau memperingati hari besar pada setiap tanggal 15 Februari yang merupakan perayaan lupercalia adalah perayaan persuciaan pada masa Romawi (13-18) dan memohon perlindungan kepada Dewi Cinta terhadap kedamaian dan ketentraman.

Pada dasarnya merayakan atau tidak hari Valentin lumrahnya hanya pada golongan Remaja terutama kaum perempuan dan sebagian besar masyarakat awam tidak tahu menahu terhadap Hari Valentin, entah kenapa, gencarnya media dan sangat mudahnya adanya Fatwa terhadap Haram dan Halalnya sebuah perbuatan yang seringkali muncul dipermukaan membuat masyarakat luas bertanya-tanya apa itu Valentin dan bagaiman Hukumnya.

Menurut konsep Imam Al-Ghozali tentang Halal-Haram dalam Ihya' Ulumuddin, bahwa hukum Shara' yang paling asasi hanyalah Al-Qur'an dan As-Sunnah, akan tetapi setiap mujtahid dalam mengambil hukum, mungkin seringkali memiliki hasil ijtihat yang berbeda atas dasar faktor lingkungan sosial yang berbeda. dan menurut Al-Ghazali, esensi paling penting bagi manusia adalah melaksanakan Ibada pada Allah dengan yaqin dan tidak ada keraguan.

Lalu bagaimana denga Hari Valentin's Day yang merupakan perayaan Hari Raya Nasrani atau yang dikenal sebagai hari kasih sayang didunia, sebagian besar dan bermunculan Fatwa yang melatar belakang sebagai jargon islam, salah satunya menghukumi sebagi Bid'ah dan haram untuk melakukannya.

Pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, disaat membuat keputusan untuk membolehkan kaum Tionghoa melaksanakan Imlek dan Perayaan Tahun Baru Cina yang bertepatan dengan tanggal 14 Februari (hari Valentin) dan pada saat itupula merupakan kebahagian yang dimiliki Bangsa ini terhadap terciptanya pluralitas kebudayaan dalam dir Bangsa.

Kebayakan tokoh Islam atau Fuqoha'  yang dikatigorikan sebagai ulama' tidak mengharamkan dan tidak membolehkan dalam artian hanya bersifat Toleran terhadap hari Valentin's Day dan juga memberikan arahan tentang kebenaran di balik sejarah yang tertimbun dimana kejamnya hari itu dan murkanya manusia dari Ilahi.

Ada beberapa hal yang menjadi Hujjah dalam ukurannya keberadaan kontroversial Masyarakat, bahwa mengharamkan Hari Valentin tidak akan membuat dosa kita berkurang, dan justru berpontrensi mendapakan murka karena di nilai merubah ketentuan hukum Allah yang telah ditetapkan.dalam hadist Al-Qudsi di jelaskan "Sesungguhnya, kasih Sayang-ku, mengalahkan Murka-ku.

SATU-SATUNYA DI DUNIA, ADZAN EMPAT KALI DI PONPES SUKOREJO SITUBONDO


Oleh : Sobri Al-Bukhori (Mahasiswa UNIBDU Jombang)

#wisatapesantren. Jika anda menyempatkan diri berkunjung di salah satu pondok pesantren terbesar di Jawa Timur tepatnya di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo, ada suasana Dzikir yang sangat kaya dengan nilai-nilai rohani atau sudut ruang yang cendrung dengan Dunia karomah para Wali Allah, yaitu adzan sholat yang tidak seperti lazimnya disuatu tempat. dan hal ini merupakan satu-satunya yang ada di Dunia.

di pesantren ini, Adzan Magrib  tidak seperti biasanya di setiap Masjid atau Mushollah yang dikumandangkan pada saat waktu sholat dan itu hanya ada di Musholla Ibrahimmy komplek Pesantren Sukorejo. Adzan Magrib dikumandangkan dengan empat kali kalimat Takbir dengan dua Muadzin sekaligus.

Irama itu terdengar dengan lembut atau kemerduan suara Muadzin seperti di Madinah atau Makkah, suara itu mengumandangkan kalimat adzan, dengan dikumandangkan secara bertahap atau silih berganti dalam heningan senja menjelang malam. pada saat itu para santri, sibuk diri dengan genggaman kitabnya dan sebagian yang lain berlari dan bergegas saat mandi untuk mengikuti sholat Jama'ah di Pesantren ini.

tentang Adzan dua kali itu, konon diceritakan oleh beberapa santri dan kisah-kisah dunia pesantren, pola adzan di ponpes sukorejo ini sudah ada semenjak pengasuh kedua Pesantren Salafiyah Syafi'iyah yaitu Alm. KHR. As'ad Syamsul Arifin, yang merupakan tokoh karismatik NU dan pada masa mudanya di kenal gerilya malawan penjajah dan disebutkan juga bahwa beliau salah satu pimpinan Laskar Hisbullah.

Suatu ketika adzan dua kali ini pernah di coba  untuk dikumandangkan Andzan Satu kali, karena dipandang tidak ada ketentuan dalam hukum Fiqih oleh menantunya KHR Dhofir Munawar yang alim dan pakar ilmu Fiqih di saat KHR As'ad Syamsul Arifn pergi ke Makkah,  akan tetapi hal ini tidak berjalan baik.

Setelah beberapa hari mencoba dengan mengumandangkan Adzan satu kali dengan satu mu'addzzin, di sekitar Musholla Ibrahimmy tepatnya didepan Musholla terdapat kejadian aneh, tiba-tiba beberapa kali bangunan sekolah terbakar tampa ada sebabya. dan ketika dikembalikan dengan lumrahnya Adzan pola KHR, As'ad Syamsul Arifin di musholla ini, kejadian itu tidak pernah terjadi lagi sampai saat ini. subhanallah...

Atas keyakinan inilah, bahwa adzan yang sudah menjadi tradisi di Pesantren ini dikumandangkan dengan empat kali dan dua muadin dan di anggap sudah tidak ditoleran untuk merubahnya, suatu ketika dikisahkan bahwa Kyai As'ad perna di tanya tentang Adzan ini oleh para ulama saat Muktamar PBNU SITUBONDO tahun 1986, beliau menjawab "Adzan pertama untuk memanggil sholat, sedangkan Adzan yang kedua untuk mengusir jin di NU". (tentang KHR. As'ad Syamsul Arifin. selanjutnya di...)



(foto dari http://mahad-aly.sukorejo.com/)



SANTRI DAN SEJARAH SANTRI MENURUT GUSMUS (KH. MUSTHOFA BISRI)



wisatapesantren. Tausyah Hari Santri Nasional dan yang di anggap Santri menurut Gus Mus (KH Musthofa Bisri). Hari santri 22 Oktober yang merupaka hari kebangkitan kaum Pesantren dengan rosolusi jihat NU pada saat melawan penjajahan Belanda yang merupakan hari bersejarah bagi bangsa ini dan bukti yang menunjukkan peran besar keterlibatan pesantren terhadap berdirinya Negara Indonesia.

Darimanakah latar belakang hari santri ini ditetapkan dan lalu siapakah yang disebut Santri tersebut.? apakah mereka yang sedang menempuh pendidikan di pesantren dan yang pernah di pesantren untuk menuntut Ilmu ataukah santri itu bermakna Global. jawaban setelah kami himpun, mayoritas jawabannya sesuai dengan apa yang di fatwakan oleh KH. Mustofa Bisri (Gus-Mus).

Menurut Gus-Mus. hari santri ini bermula dari pemerintah bukan dari Nahdlatul Ulama' dan akan tetapi tanggal penetapan hari santri ini, NU meminta pada tanggal 22 Oktober dan menurut beliau dikamus pemerintah santri tidak adalah keseharian dan keterlibatannya, padahal peran santri dalam resolusi jihat pada masa penjajahan, santri sangat bergerilya melawan penjajahan belanda dan jepang.

Sejarawan di Indonesia dan pemerintah pusat tidak pernah menulis peran santri terhadap bangsa ini, hal ini hanya pernah dicatat oleh seorang wartawan dari luar negri Sayyid Muhammad Asad Sihab dari arab menulis buku yang berjudul "Al-Allamah Muhammad Hasym As'ari wa biu labi'ati istiklali Indonesia" dan jika diartikan dalam bahasa harfiyah, Maha Kiai Hasym As'ari peletak batu pertama kemerdekaan Indonesia.

Peran kyai atau kaum santri di Indonesia ini tidak ditulis sejarah Indonesia, dan hal ini juga karena keikhlasan Kyai-Kyai NU yang tidak mau ditulis dan dipublikasikannya perjuangannya atas dasar keikhlasan berjuang dan agar tidak menimbulkan riya'. dan banyak sekali keterlibatan kaum pesantren yang tidak tulis oleh sejarah.

Adapun santri menurut Gus Mus ditausyahnya pada saat kirap hari santri 22 Oktober 2015 ialah, bahwa yang disebut santri buka yang mondok saja tetapi siapapun yang ber-akhlak santri, yang tawaddu' kepada Gusti Allah, Tawaddu' kepada orang alim, kalian namanya santri dan santri melihat tanah air Indonesia ini sebagai rumah, kalau  santri berbicara kebangsaan bukan karena nasionalisme, karena santri tidak tau isme-isme akan tetapi karena keterlibatan dan kepemilikannya terhadap bangsa ini. (silahkan simak tausyah Gus-Mus pada saat Kirab Hari Santri Nasional) Jazakumullah, semoga mendapatkan barokahnya bersama-sama. amin....